Dimas | 03 November 2026
Bagi rider downhill, ketinggian bukan sekadar angka pada papan informasi venue karena semakin tinggi lokasi, semakin rendah tekanan udara dan semakin sedikit oksigen yang tersedia untuk tubuh. Dilansir Cycling Weekly, kondisi tersebut membuat sistem kardiovaskular bekerja lebih keras untuk memasok oksigen ke otot, sehingga aktivitas fisik dapat terasa lebih berat dibandingkan di dataran rendah.
Dampak tersebut tetap relevan bagi downhill meskipun durasi race relatif singkat, terutama ketika trek berada di kawasan pegunungan dengan start line yang tinggi. Pada World Cup Lenzerheide 2022, misalnya, start downhill berada di atas 1.700 meter dan Red Bull mencatat bahwa ketinggian tersebut menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan atlet, meskipun pengaruhnya terhadap downhill tidak sebesar pada nomor cross-country yang memiliki tuntutan aerobik lebih panjang.
Salah satu perubahan yang paling cepat dirasakan adalah napas dan heart rate yang dapat meningkat ketika tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen. Dilansir RedBull, pengalaman atlet MTB Maja W?oszczowska di ketinggian 1.900 meter menunjukkan bahwa minggu pertama membutuhkan pendekatan lebih hati-hati karena tubuh belum sepenuhnya terbiasa bekerja dengan ketersediaan oksigen yang lebih rendah.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas latihan sebelum race karena rider mungkin tidak mampu mempertahankan intensitas yang sama seperti ketika berlatih di dataran rendah. W?oszczowska menyarankan latihan intensitas rendah pada hari-hari awal aklimatisasi dan memperingatkan bahwa angka power dapat turun ketika tubuh masih beradaptasi terhadap ketinggian.
Proses aklimatisasi adalah faktor penting bagi rider yang harus berlomba di venue tinggi. Cycling Weekly menjelaskan bahwa adaptasi tubuh terhadap ketinggian membutuhkan waktu, sementara proses tersebut dapat meningkatkan kemampuan tubuh membawa dan menggunakan oksigen. Jika lo datang terlalu dekat dengan hari race, tubuh lo mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk beradaptasi terhadap iklim sekitar.
Namun, semakin tinggi bukan berarti otomatis semakin baik untuk latihan. Cycling Weekly mencatat bahwa altitude yang terlalu tinggi justru dapat menurunkan kualitas latihan dan mengganggu recovery, sehingga atlet perlu mencari kondisi yang memungkinkan tubuh mendapatkan stimulus dari ketinggian tanpa mengorbankan kualitas latihan.
Bagi rider downhill, strategi menghadapi altitude juga harus mempertimbangkan hidrasi, nutrisi, recovery, dan intensitas latihan. W?oszczowska menyebutkan bahwa tubuh membutuhkan perhatian lebih terhadap asupan karbohidrat dan cairan ketika berada di ketinggian serta menyarankan agar rider tidak memaksakan latihan berat pada fase awal adaptasi.
Faktor ketinggian tidak otomatis membuat seorang rider lebih lambat, tetapi sebuah kondisi lingkungan yang menuntut tubuh bekerja secara berbeda. Dengan memahami reaksi tubuh, memberikan waktu aklimatisasi yang cukup, serta menyesuaikan latihan dan recovery, lo dapat datang ke trek tinggi dengan kondisi yang lebih siap menghadapi tuntutan race.
Trek downhill modern semakin cepat, curam, dan teknis. Keberanian rider bukan sekadar keberanian untuk... read more
#76Rider DH Squad
Dalam downhill, membaca trek adalah proses memahami obstacle, permukaan, kemiringan, dan karakter setiap section... read more
#76Rider DH Squad
Dalam downhill, cuaca bukan sekadar latar belakang balapan, tetapi faktor yang dapat mengubah karakter... read more
#76Rider DH Squad